Sabtu, 28 Juni 2014

Assalammualaikum pada kesempatan ini saya akan melanjutkan posting artikel yang telah di sampaikan di Pertemuan Jambore Juralistik pada tanggal 13 – 15 juni 2014 di Bumi perkemahan Kiara Payung, Sumedang, Jawa Barat. Semoga bermanfaat yah…
Pengertian Editing
Editing adalah proses penyambungan gambar dari banyak shot tunggal sehingga menjadi kesatuan cerita yang utuh.

Editor menyusun shot-shot tersebut sehingga menjadi sebuah scene, kemudian dari penyusunan scene-scene tersebut akan tercipta sequence sehingga pada akhirnya akan tercipta sebuah film yang utuh. Ibarat menulis sebuah cerita, sebuah shot bisa dikatakan sebuah kata, scene adalah kalimat, sequence adalah paragraph. Sebuah cerita akan utuh bilah terdapat semua unsur tersebut, begitu juga dengan film.

Sedangkan jurnalistik menurut J.B. Wahyudi, Mantan Kepala Seksi Monitor Siaran, Direktorat Televisi,  adalah : (1). Mengalami proses pemancaran/transmisi, (2) Isi pesan audio dapat didengar sekilas sewaktu ada siaran, (3) Tidak dapat diulang, (4). dapat menyajikan peristiwa/pendapat yang sedang terjadi, (5) dapat menyajikan pendapat (audio) narasumber secara langsung/orisinal, (6) penulisan dibatasi oleh detik, menit, dan jam, (7) makna berkala dibatasi oleh detik, menit, dan jam, (8) distribusi melalui pemancaran/transmisi, (9) bahasa yang digunakan formal dan non formal (bahasa tutur), dan (10) kalimat singkat, padat, sederhana, dan jelas.

Sedangkan untuk berita televisi seorang editor tugasnya adalah menyusun suatu shot atau gambar mengenai suatu peristiwa menjadi suatu kesatuan yang utuh sesuai dengan narasi yang dibuat reporter sehingga mampu memikat pemirsa.
Dalam berita televisi gambar adalah hal yang utama dibandingkan narasi. Jika gambar mampu bercerita banyak maka narasi hanya sebagai penunjang. Untuk itulah peran editor sangat penting.

Adapun format berita televisi yaitu:
Reader.
            Reader adalah format berita televisi dimana presenter hanya membacakan lead atau teras berita saja tanpa disertai gambar atau visual.
Voice Over (VO)
            VO adalah format berita berita televisi dimana lead atau teras berita serta tubuh beritanya dibacakan oleh presenter. Sementara tubuh berita dibacakan oleh presenter, gambar menyertainya sesuai dengan konteks naskah beserta dengan natural sound dari gambar tersebut. Agar sesuai dengan naskah maka perlu proses editing agar gambar menyesuaikan dengan isi beritanya.
VO-Grafik
            Adalah format berita dimana lead dan tubuh berita dibacakan oleh presenter tetapi untuk tubuh berita isinya mengenai keterangan grafis.
Sound on Tape (SOT)
            SOT adalah format berita televisi yang hanya berisi lead dan statement atau pernyataan yang penting dari narasumber.
VO-SOT
            Adalah format berita televisi yang memadukan antara voice over dan sound on tape. Lead dan tubuh berita dibacakan oleh presenter kemudian disusul dengan SOT dari narsum yang sudah dipilih.
Package (PKG)
            Adalah format berita televisi dimana lead dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita dibacakan oleh narator atau reporter kemudian pada bagian tubuh berita disisipkan SOT narsum dan diakhiri dengan narasi kembali.
Live On Cam
            Adalah format berita televisi yang pelaporannya langsung dilapangan atau tempat peristiwa.
Live On Tape
            Adalah format berita televisi yang direkam di tempat kejadian namun siarannya ditunda.

Dalam pengerjaannya, editing dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Linear Editing
Editing dengan menyusun gambar satu per satu secara berurutan dari awal hingga akhir (seperti membentuk sebuah garis lurus tanpa putus). Sehingga seandainya terjadi kesalahan dalam menyusun gambar, kita harus mengulang kembali proses editing yang telah kita lakukan.
Editing dengan proses seperti ini biasanya dilakukan dengan media video.

2. Non-Linear Editing (NLE)
Editing dengan menyusun gambar secara acak (tidak berurutan). Dengan editing seperti ini, kita tidak lagi harus memulai editing dari awal dan berurutan hingga akhir. Kita bisa saja memulainya dari tengah, akhir, atau darimana pun. Tergantung dari materi mana yang telah siap terlebih dahulu. Dengan editing ini juga, memungkinkan kita untuk merubah susunan dan panjang gambar yang telah kita buat sebelumnya.

Adapun software yang digunakan dalam non-linear editing bermacam-macam namun yang umum yaitu: adobe premiere, avid, final cut pro, edius, sony vegas, windows movie maker, dll.

Metode editing
Dalam pengerjaannya editing dibagi menjadi dua, yaitu Cut dan Transisi.
Cut adalah proses pemotongan gambar secara langsung tanpa adanya manipulasi gambar.
Transisi adalah proses pemotongan gambar dengan menggunakan transisi perpindahan gambar.

Optical Effect secara garis besar terbagi menjadi 3, al:
 1.  Wipe,  perpindahan gambar dengan menggeser gambar lainnya. Wipe meliputi banyak transisi, antara lain wipe, slide,  dll.

2.  Fade,  gambar secara perlahan muncul atau menghilang. Fade meliputi fade  in, fade  out dan dissolve.

 3.  Superimpose,  dua gambar atau lebih yang muncul menumpuk dalam satu frame.

Dengan adanya teknologi komputer, transisi tidak lagi didasari oleh perpindahan gambar. Kita bisa menggunakan transisi berdasar elemen/bagian dari gambar, baru kemudian disambung dengan bagian lain dari gambar tersebut sampai gambar tersebut menjadi utuh.

TIPS
Pergunakan transisi sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai. Penggunaan transisi secara berlebihan dan tidak tepat akan memberi kesan yang tidak baik bagi film kita.

Editing hardnews umumnya lebih banyak menggunakan cara cut to cut.
Cut sendiri terbagi menjadi dua:
1. Match Cut, penggabungan 2 shot yang saling berkesinambungan
2. Cut Away, Penggabungan 2 shot yang sama sekali berbeda

Yang perlu dihindari dalam cara ini adalah jumping cut, yaitu penggabungan shot yang tidak berkesinambungan.

Pada prinsipnya cut untuk editing jurnalistik dengan film fiksi sama.
Match cut memungkinkan sebuah film yang terdiri dari banyak shot yang terpotong-potong, seolah-olah bagaikan rangkaian gambar yang mengalir tanpa terasa adanya potongan.
Hal-hal yang harus diperhatikan agar terciptanya match cut:
1. matching the look
menyamakan arah pandang tiap2 subyek pada tiap2 gambar yang disambung.
2. matching the position
menyamakan letak/posisi obyek pada tiap2 gambar yang disambung.
3. matching the movement
menyamakan arah gerak subyek pada tiap2 gambar yang disambung.
Apabila kita mengabaikan ketiga hal diatas, maka akan terasa ada loncatan (jumping) dalam penggabungan gambar yang kita lakukan. Dengan memperhatikan match cut, maka akan tercipta adanya Continuity Editing.

Perlu diperhatikan garis imajiner.

Pada editing jurnalistik yang perlu diperhatikan adalah kesamaan naskah atau isi berita tiap paragraph dengan visual yang ditampilkan. Unsur 5W +1H juga terdapat didalamnya. Selain mengikuti teori editing, dalam editing jurnalistik juga mengikuti etika jurnalistik secara visual seperti tidak boleh menampilkan gambar yang mengandung unsur pornografi, sara, sadis, dan menimbulkan keresahan masyarakat, seperti contohnya gambar wanita sexy, gambar mayat yang berdarah-darah, dsb.  

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh video editor adalah:
ketersedian stock shot yang cukup dan baik dari juru kamera, sesuai dengan kebutuhan sebuah program,
1.    content program yang menarik dari penulis naskah atau tim kreatif,
2.    voice over yang sesuai dan,
3.    waktu yang disediakan untuk menyelesaikan sebuah program,

Seorang editor di stasiuntv diharuskan:
§  sanggup bekerja dibawah tekanan yang besar,
§  dapat bekerja dengan banyak orang dari berbagai divisi serta,
§  mampu mengambil keputusan-keputusan penting dalam pekerjaan terutama untuk program-program dengan deadline waktu yang sempit.

Pengetahuan tentang hardware dan software editing mutlak dimiliki sebagai salah satu persyaratan utama menjadi seorang editor.

Rumus dasar Berita Televisi adalah PICTURE + WORDS = TV.

Berita televisi pada dasarnya adalah gambar dan kata-kata yang diramu sedemikian rupa menghasilkan satu kesatuan utuh yang dinamakan berita.

Sebelum melakukan proses editing, seorang editor harus memahami ide dari keseluruhan cerita yang akan disajikan,

-    Tema dasar cerita
-    Plot/alur ceritanya (perkembangan cerita dari awal sampai akhir)
-     Apa yang kita harapkan dari penonton untuk ikut merasakan dan mengalaminya
-    Memilih apa yang penting dan membuang apa yang tidak penting dalam konteks keseluruhan cerita.
-    Apa pesan utama dari program yang akan kita sajikan


Seorang editor juga harus memiliki pemahaman tentang sinematography

1.    Sense Of Cutting,

Macam-macam cutting

Jump Cut, suatu pergantian shot dimana kesinambungan waktunya terputus karena loncatan dari satu shot ke shot berikutnya yang berbeda waktunya.

Cut In, Insert, suatu shot yang disisipkanpada shot utama (master shot) dengan maksud untuk menunjukkan detil.

Cut Away, Intercut, Reaction Shot, shot action yang diambil pada saat yang sama sebagai reaksi dari shot utama

Cut On Direction, suatu sambungan shot dimana shot pertama dipertunjukkan suatu obyek yang bergerak menuju kesuatu arah, shot berikutnya obyek lain yang mengikuti arah gerakan shot pertama

Cut On Movement, sambungan shot dari suatu obyek yang bergerak kearah yang sama, dengan latar belakang yang berbeda

Cut Rhime, pergantian shot atau adegan dengan loncatan ruang dan waktu pada kejadian yang (hampir) sama dalam suasana yang berbeda.

Fungsi Cut untuk mempertunjukkan :

·         Kesinambungan action
Apabila satu kamera tidak mampu mengikuti suatu action, misalnya karena halangan obyek lain, kita potong atau ganti shot lain dengan camera angle berbeda yang menyajikan kesinambungan dari shot yang pertama.

·         Detail Obyek
Misalnya dengan LONG SHOT kita sajikan seseorang yang sedang membaca buku, untuk membantu penonton melihat buku apa yang sedang dibaca, kita pertunjukkan CLOSE UP dari judul buku.

·         Peningkatan atau penurunan irama kejadian (Progresi)
Dengan LONG SHOT kita sajikan seseorang sedang ditodong pistol oleh seseorang yang lain, kemudian shot berikutnya kita nampakkan MEDIUM SHOT sipenodong dengan pistolnya, atau MEDIUM CLOSE UP wajah orang yang ditodong.
Cut to CLOSE UP – mempertunjukkan pengembangan kejadian.
Cut to LONG SHOT – menunjukkan penurunan kejadian.

·         Perubahan tempat dan waktu
Cut dari interior ke exterior
Loncatan adegan kedepan atau kebelakang dari satu peristiwa (flash back) atau peristiwa lain yang berbeda di tempat lain pada saat yang sama.

·         Menciptakan irama kejadian
Fast Cutting, cut to cut secara cepat menyajikan kesan merangsang penonton, perasaan tegang
Slow cutting, menunjukkan kesan lambat dan tenang

2.    Sense Of Camera Size (shot size),

ELS (Extreme Long Shot)
Shot sangat jauh, menyajikan bidang pandangan yang luas, kamera mengambil keseluruhan pemandangan. Obyek utama dan obyek lainnya nampak sangat kecil dalam hubungannya dengan latar belakang.

LS (Long Shot)
Shot jauh, menyajikan bidang pandangan yang lebih dekat dibandingkan dengan ELS, obyek masih didominasi oleh latar belakang yang lebih luas.

MLS (Medium Long Shot)
Shot yang menyajikan bidang pandangan lebih dekat dari pada Long Shot, obyek manusia biasanya ditampilkan dari atas lutut sampai diatas kepala.

MS (Medium Shot)
Disini obyek menjadi lebih besar dan lebih dominan, obyek manusia dinampakkan dari atas pinggang sampai di atas kepala. Latar belakang masih nampak sebanding dengan obyek utama.

MCU (Medium Close Up)
Shot ama tdekat, obyek diperlihatkan dari bagian dada sampa  atas kepala. MCU inilah yang paling sering dipergunakan dalam televisi

CU (Close Up)
Shot dekat, obyek menjadi titik perhatian utama didalam shot ini, latar belakang nampak sedikit sekali. Untuk manusia biasanya ditampilkan wajah dari bahu sampai atas kepala.

BCU (Big Close Up) dan ECU (Extreme Close Up)
Shot yang menampilkan bagian tertentu dari tubuh manusia. Obyek mengisi seluruh layar dan jelas sekali detilnya.

CUT OFF LINES

Istilah dalam framing (pembingkaian) gambar dengan obyek manusia berdasarkan garis/potongan bagian pada tubuh.
-          FS (Full Shot) atau TS (Total Shot) menyajikan seluruh tubuh
-          Knee Shoot (Shot Lutut) menampilkan bagian tubuh dari lutut sampai atas kepala
-          Beast Shot (Shot Dada)
-          Head Shot (Shot Kepala)

Beberapaistilah shot yang lain
Tight Shot (Shot dekat)
Wide Shot (Shot jauhataulebar)
Cover Shot (Shot-shot MS sampai CU)
Two Shot (Shot dua orang)
Three Shot (Shot tiga orang, dst)

OS (Over the Shoulder Shot) Shot dimana obyek utama menghadap kearah kamera, dengan bingkai di samping kiri atau kanan nampak bahu dan sebagian kepala obyek lain sebagai lawan bicara.

Establishing Shot Pengambilan gambar dengan kamera statis, (biasanya dalam posisi Extreme Long Shot atau Long Shot) yang menampilkan keseluruhan pandangan untuk memperkenalkan suatu tempat dimana suatu peristiwa sedang terjadi.
  
3.    Sense Of Camera Angle,
-          Eye level
-          High angle
-          Low angle

4.    Sense Of Camera Movement

 

PAN, PANNING

Pan adalah gerakan kamera secara horisontal (mendatar) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

Pan Right (kamera bergerak memutar kekanan)
Pan Left (kamera bergerak memutar kekiri)

Gerakan pan biasanya dilakukan untuk mengikuti gerakan subyek (orang yang sedang berjalan), mempertunjukkan suatu pemandangan yang luas secara menyeluruh, gerakan pan secara pelan menimbulkan perasaan menanti. Kadang-kadang panning cepat atau swish pan dilakukan untuk menghubungkan dua peristiwa yang terjadi di dua tempat

TILT, TILTING

Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal, mendongak dari bawah ke atas atau sebaliknya.

Tilt Up – mendongak ke atas
Tilt Down – menunduk ke bawah

Gerakan tilt dilakukan untuk mengikuti gerakan obyek (peluncuran balon, pesawat take off, dll), untuk menciptakan efek dramatis, mempertajam situasi.
Sepertihalnya dengan gerakan panning, alangkah baiknya apabila ditentukan dulu titik awal dan titik akhir shot.

ZOOM

Zoom adalah gerakan lensa zoom mendekati atau menjauhi obyek secara optik, dengan mengubah panjang fokal lensa dari sudut pandang sempit (telephoto) kesudut lebar (wide angle) atau sebaliknya.
Zoom in :mendekatkan obyek dari long shot ke close up
Zoom out :menjauhkan obyek dari close up ke long shot

5.    Sense Of Composition

6.    Sense Of Continuity.

Dengan pemahaman yang baik tentang sinema tografi seorang editor dapat menciptakan irama kejadian dalam sebuah adegan, meningkatkan atau menurunkannya (progresi), serta membuat perubahan tempat dan loncatan-loncatan waktu tanpa mengorbankan kontinuitas hubungan antara shot yang satu dengan shot yang berikutnya dari sebuah cerita secara keseluruhan, dengan kata lain, penonton diharapkan untuk tidak merasakan program yang disajikan sebetulnya adalah potongan-potongan shot yang disambung-sambung,
dan untuk merangkai serta menyusun shot demi shot menjadi suatu cerita yang utuh editor juga harus memiliki pemahaman tentang gambar yang baik, mulai dari sudut pengambilan gambar atau camera angle dan efek psikologi sapa yang diciptakannya, sampai dengan pengaturan komposisi melalui pemilihan shot size dan angle yang tepat, sehingga menimbulkan ilusi 3 dimensi dan mampu memberikan kesan dalam yang membawa emosi penonton.



Syarat utama dalam editing adalah kesinambungan gambar dan suara sekaligus. Harus diperhatikan pula kesinambungan irama dari adegan, hubungan antara shot yang satu dengan shot berikutnya, dengan bermacam variasi komposisinya.

TIPS
Posisikan diri kita sebagai penonton setelah kita selesai mengedit sebagian atau seluruh film kita. Tanyakan pada diri kita apakah pesan yang ingin disampaikan bisa diterima atau tidak. Mintalah bantua orang lain untuk menonton hasil kita untuk membantu mengurangi penilaian kita yang terlalu subyektif. Tanyakan juga kepada mereka apakah pesan yang mereka terima, apakah sudah sama dengan pesan yang ingin kita sampaikan.

Pengetahuan teknis.
Sebelum melakukan editing NLE seorang video editor harus mengetahui terlebih dahulu dia akan bekerja dalam format projek apa.
            Seperti Film, video adalah bagian dari gambar - gambar individual yang disebut frame. Proyeksi / pergerakan beberapa gambar perdetik tersebut membuat ilusi gambar yang bergerak karena otak tidak dapa tmenangkap gambar secara individual.
            Dengan ukuran 24 frame per detik (fps: frame per second), video akan memproyeksikan gerakan yang halus dan berkelanjutan.
            Di AmerikaSerikat dan Jepang, standar sinyal komposit yang diambil dari industri televisidan video dikenal dengan istilah Sinyal NTSC = National Television Standart Committee. Sinyal NTSC (North American Standart) mempunyai jumlah frame 30 frame per detik (fps), tepatnya 29,97 fps.

Di Eropa  Barat & Amerika Selatan, secara umum menggunakan sinyal PAL (Phase Alternating Line), dengan menggunakan jumlah frame 25 fps.
Sekian postingan ini. Terima kasih sudah membacanya, tunggu lagi yah pastingan laiinnya…

0 komentar :

Posting Komentar